Di sudut gang kecil di samping kuburan, seorang perempuan tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun duduk di atas kursi plastik. Punggungnya sudah bungkuk dan kulitnya penuh keriput. Dialah Mbah Hazma, penjual bunga kuburan yang setiap hari menjajakan bunga melati, kenanga, mawar, dan daun pandan yang ia beli di pasar dekat tempat ia tinggal lalu ia rangkai sendiri.
Mbah Hazma tinggal sendirian di rumah kontrakan kecil di sebuah gang kecil tengah kota, Setiap pagi buta, ia berjalan pelan dengan langkah tertatih menuju pasar untuk membeli bunga-bunga yang akan dia rangkai sendiri lalu untuk dijual kembali, Tangannya yang renta masih cekatan merangkai bunga dengan penuh ketelatenan. Ia tahu, bunga-bunga itu akan digunakan untuk mendoakan orang-orang yang telah tiada, dan ia merasa bahwa dengan menjual bunga-bunga ini, ia juga ikut mengirimkan doa bagi mereka yang telah berpulang.
Meski hidupnya sepi, Mbah Hazma tak pernah mengeluh. Ia menerima kehidupannya dengan ikhlas. Beberapa pelanggan setia selalu datang membeli bunga darinya, terutama saat menjelang hari-hari besar keagamaan. Kadang, ada pula yang sekadar duduk bersamanya, mendengar cerita-cerita masa lalunya dahulu.
Meskipun menjalani hidup yang sederhana, Mbah Hazma senantiasa bersyukur. Ia tidak memiliki banyak harta, namun ia merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam hatinya. Setiap hari, ia terus menjual bunga-bunga yang tidak hanya mencukupi kebutuhannya, tetapi juga membawa harapan dan doa untuk mereka yang telah tiada.
Di tengah keramaian kota yang terus berkembang, Mbah Hazma tetap bertahan, menjadi saksi diam dari waktu yang terus berlalu, dan mengajarkan bahwa makna hidup yang sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa ikhlas kita memberikan kepada orang lain.
Belum ada Fundraiser
Menanti doa-doa orang baik