“Barang-barang ini mungkin tak berguna bagi orang lain, tapi bagi saya, ini sumber rezeki untuk cucu saya.”
Setiap hari, dengan tubuh renta dan langkah perlahan, Mbah Wa Sera (66 tahun) berjalan menyusuri gang-gang kecil dan jalanan kota, mencari kaleng dan paku bekas demi bisa menyambung hidup dan menyekolahkan cucu-cucunya.

Suaminya telah lama meninggal sedangkan anaknya kini terbaring sakit, mengidap jantung dan TBC. Namun, Mbah Wa Sera tak menyerah. Ia memilih berdiri di garis depan, berjuang sendiri demi kehidupan cucunya.

Setelah anak-anak kecil itu berangkat sekolah, Mbah mulai berjalan dari rumah di gang kecil menuju kota, mencari barang-barang yang bisa ia jual. Tak peduli panas menyengat, tak peduli badan lelah, selama cucunya bisa makan dan sekolah.

Setiap kaleng dan paku bekas yang ia kumpulkan bukan hanya sekadar barang bekas.
Itu adalah bukti cinta dan keteguhan seorang nenek—yang tak ingin melihat cucunya tumbuh tanpa harapan. “Saya tahu apa yang saya lakukan mungkin dipandang remeh. Tapi saya lakukan ini semua agar cucu saya punya masa depan.”
Dengan hasil penjualan yang tak seberapa, Mbah tetap menyisihkan untuk membeli kebutuhan rumah dan biaya sekolah cucunya.

Di usianya, harusnya Mbah Wa Sera beristirahat. Tapi hidup berkata lain.
Kini ia adalah segalanya bagi cucu-cucunya, setiap langkahnya adalah doa. Setiap kaleng yang ia kumpulkan adalah pengorbanan untuk harapan masa depan.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa