Di usia 95 tahun, Mbah Sadiyem masih berjuang seorang diri. Tubuhnya sudah renta, jalannya pun tertatih, tapi setiap hari beliau tetap mencari daun pisang untuk dijual.

Hasilnya hanya sekitar Rp5.000 sehari, itu pun kalau ada pesanan. Jika tidak ada, Mbah Sadiyem hanya bisa menahan lapar.

“Kalau lapar ya saya tahan, Nak… yang penting adik saya bisa makan.” Mbah Sadiyem, 95 tahun.
Beliau tinggal bersama adiknya yang juga sudah lanjut usia dan menderita stroke. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Mbah Sadiyem merawat adiknya siang dan malam menyuapi, memandikan, dan memastikan sang adik bisa makan, meski dirinya sering menahan lapar.

Di rumah kecil yang hampir roboh, mereka hidup seadanya. Tidur hanya beralaskan tikar, dinding mulai rapuh, dan atap bocor saat hujan turun.
Tak ada keluarga lain yang menemani, hanya dua lansia yang saling bergantung untuk bertahan hidup.

Di usia yang seharusnya bisa beristirahat dengan tenang, Mbah Sadiyem justru masih harus memikirkan bagaimana bisa makan esok hari.
Namun, di balik tubuh ringkih itu, ada hati yang kuat dan penuh kasih. Ia percaya, setiap manusia punya rezekinya sendiri meski kadang harus menunggu dengan perut kosong.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Sadiyem dan adiknya agar bisa hidup dengan lebih layak.
Sedikit bantuan darimu bisa menjadi penguat bagi mereka yang berjuang di usia senja, melawan lapar dan kesepian.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Puspita
6 hari yang laluastungkare bisa bermanfaat untuk nenek nya
Sahabat Baik
6 hari yang laluAmin
Sahabat Baik
1 minggu yang laluSemoga hidupnya lebih bermakna
Asyifa
1 minggu yang laluMaaf hanya bisa ngasih sedikit, semoga bisa membantu nek