“Walaupun kondisi saya seperti ini, semua saya lakukan supaya bisa makan dan bertahan hidup, Mas,” ucap Pak Marsuki (51 tahun).
Pak Marsuki adalah seorang difabel yang kini harus berjuang sendiri setelah istrinya meninggal dunia. Ia hidup berdua bersama anaknya, menggantungkan harapan dari hasil berjualan asongan setiap hari.

Dengan sepeda tuanya, Pak Marsuki berkeliling menjajakan masker, tisu, dan air mineral. Ia mengayuh berkilo-kilo meter dari pagi hingga malam. Jika lelah, ia hanya beristirahat sebentar di pinggir jalan di bawah terik matahari. Namun jika hujan turun, ia tak bisa berjualan. “Kalau hujan, dagangan saya basah dan tidak ada yang beli. Kalau tidak ada yang beli, berarti saya harus puasa hari itu,” katanya pelan.

Penghasilannya tidak menentu. Terkadang seharian berkeliling hanya mendapat Rp10.000–15.000. Bahkan pernah, saat baru mengumpulkan Rp100.000 untuk membeli beras, uangnya justru dirampas orang. Dengan kondisi fisiknya, ia tak mampu melawan. Ia hanya bisa pasrah dan menahan tangis.

Tak jarang dagangannya tidak laku sama sekali. Perutnya sering kosong dan hanya terisi air putih. Sepeda yang ia gunakan pun kerap rusak, menambah berat perjuangannya. Namun di tengah semua keterbatasan itu, Pak Marsuki tetap berusaha demi anaknya.

#SahabatBaik, mari bantu ringankan perjuangan Pak Marsuki agar ia dan anaknya bisa bertahan hidup dengan lebih layak

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa