“Hampura Bapak, Neng… sing sabarnya, Neng. Hampura Bapak. Mudah-mudahan aya rezekina buat sekolah.”
Dengan suara bergetar, Abah Adang (50 tahun) memeluk putrinya, Atika (15 tahun). Di usia yang seharusnya dipenuhi belajar dan mengejar cita-cita, Atika justru harus meninggalkan sekolah dan ikut membantu ayahnya mencari rongsokan.
Setiap hari, Abah Adang berjalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan barang bekas. Namun perjuangannya semakin berat karena di kaki kirinya terdapat benjolan tumor yang terus membesar. Rasa sakit membuat langkahnya tertatih, tetapi Abah tetap memaksakan diri demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dari hasil memulung, Abah hanya mendapatkan sekitar Rp15.000–Rp20.000 sehari. Untuk memeriksakan tumornya saja tidak mampu, bahkan kebutuhan makan sehari-hari sering kali masih menjadi persoalan. Sang istri sesekali bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan upah Rp35.000–Rp50.000, tetapi pekerjaan itu pun tidak datang setiap hari.

Di tengah kondisi tersebut, Atika memilih mengalah. Ia sudah putus sekolah sejak SD dan kini ikut turun ke jalan membantu ayahnya. Padahal, jauh di dalam hatinya, Atika masih menyimpan keinginan untuk kembali belajar.

“Mau sekolah mah, cuma kan takut nggak ada buat beli bukunya,” ucap Atika lirih.
Bukan hanya Atika yang harus merasakan pahitnya kemiskinan. Adiknya, Citra (8 tahun), juga kerap pulang menangis karena diejek teman-temannya akibat kondisi ekonomi keluarga mereka.
Abah Adang mungkin tidak mampu memberikan banyak hal untuk anak-anaknya. Namun setiap langkah yang ia tempuh, bahkan dengan kaki yang sakit, adalah bentuk perjuangannya agar keluarganya tetap bisa bertahan.
#Sahabat Baik, mari bantu wujudkan harapan Abah Adang agar Atika bisa kembali bersekolah dan keluarga mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Donasi yang diberikan juga dapat membantu kebutuhan pengobatan Abah serta kebutuhan dasar keluarganya.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa