Sudah lebih dari 30 tahun Mbah Sarikem hidup tanpa suami. Di usia senjanya kini, beliau hanya tinggal berdua dengan anak lelakinya yang mengalami gangguan jiwa. Sehari-hari, anak itu dirawat sepenuh hati oleh Mbah Sarikem seorang diri.

Untuk bertahan hidup, Mbah Sarikem masih bekerja sebagai pembatik. Dengan tangan renta yang gemetar, ia sabar menggoreskan canting di atas kain putih. Satu lembar batik ia selesaikan dalam waktu seminggu, dengan harga hanya Rp30.000. Dalam sebulan, paling banyak ia bisa menjual 3–4 lembar kain.

Penghasilan sekecil itu tentu jauh dari cukup. Sering kali, Mbah dan anaknya hanya bisa makan sekali dalam sehari.

Rumah yang mereka tinggali pun jauh dari kata layak. Lantainya rusak, atapnya bocor, dindingnya lapuk. Saat hujan, air masuk dari segala sisi hingga mereka basah kuyup. Tak ada listrik, malam-malam hanya ditemani kegelapan. Siang pun hanya diterangi cahaya dari celah genteng yang sudah bolong.

Namun, semangat seorang ibu tak pernah padam. Meski tubuh renta, meski hidup penuh keterbatasan, Mbah Sarikem tak pernah meninggalkan anaknya. Ia tetap membatik, tetap bekerja, demi bisa memberi makan dan merawat anak yang tak bisa hidup mandiri.
🤲 #SahabatBaik, mari bantu Mbah Sarikem dan anaknya.
Sedikit uluran tangan kita bisa jadi cahaya di tengah gelapnya hidup mereka.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa