Di sebuah kawasan perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, berdiri sebuah sekolah sederhana bernama Sekolah Bumi Damai Indonesia. Sekolah ini telah menjadi tempat belajar dan menumbuhkan cita-cita anak-anak selama kurang lebih 5 tahun terakhir.

Sekolah ini lahir bukan dari bantuan besar atau bangunan megah, melainkan dari keikhlasan masyarakat sekitar dan kepala dukuh yang bergotong royong membangunnya. Dengan semangat kebersamaan, mereka mengumpulkan tenaga, waktu, dan apa pun yang dimiliki agar anak-anak di daerah tersebut memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak.
Bangunan sekolah yang berdiri hari ini menjadi saksi perjuangan itu. Dibangun dari kayu-kayu bekas yang dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali, sekolah ini hadir sebagai simbol harapan bagi masa depan generasi penerus. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan yang sederhana itu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang mengkhawatirkan.
Kayu-kayu penyangga sudah mulai lapuk dimakan usia. Dinding yang terbuat dari GRC banyak yang retak dan bahkan jebol di beberapa bagian. Ketika hujan turun, air menetes dari atap yang bocor sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tidak ada kemewahan di sekolah ini. Bahkan ruang guru yang sempit hanya berisi sebuah meja sederhana yang dibuat dari susunan bata ringan, hasil sumbangan warga yang peduli.
Di balik segala keterbatasan tersebut, ada 24 siswa yang setiap hari datang membawa mimpi dan harapan. Mereka tetap semangat belajar meskipun fasilitas yang tersedia jauh dari kata memadai.
Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah ketersediaan air bersih. Hingga saat ini, sekolah belum memiliki pompa air (sanyo) untuk mengalirkan air ke toilet. Para guru dan orang tua murid harus bergotong royong membawa air menggunakan botol dan galon dari bawah bukit. Sebuah pekerjaan berat yang harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan dasar sekolah.
Karena kondisi bangunan yang semakin rapuh, para guru sering kali dihantui rasa khawatir. Mereka takut sewaktu-waktu bangunan tersebut roboh dan membahayakan keselamatan anak-anak. Akibatnya, tidak jarang kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di luar ruangan demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Perjuangan anak-anak untuk menuntut ilmu juga tidak berhenti sampai di situ. Setiap hari mereka harus menempuh perjalanan yang tidak mudah. Jalan berbatu, licin saat hujan, dan tanjakan yang curam menjadi bagian dari perjuangan mereka menuju sekolah. Namun semua itu tetap mereka lalui dengan semangat karena mereka percaya pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.
#SahabatBaik, maukah kamu menjadi bagian dari perjuangan mereka ?. Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang sudah lapuk, mengganti atap yang bocor, memperkuat dinding yang rusak, menyediakan pompa air, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi anak-anak.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa