“Sudah berjam-jam Kakek berdiri di sini nunggu pembeli, tapi belum ada yang beli juga,” ujar Kakek Machyuti lirih.
Di usia 73 tahun, Kakek Machyuti masih harus berjuang mencari nafkah. Setiap pagi hingga sore, beliau mengayuh sepeda berkeliling kampung menjajakan mainan tradisional seperti kincir dan layangan yang dibuatnya sendiri.

Di tengah zaman yang serba digital, mainan sederhana buatannya kini semakin jarang diminati. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai. Namun Kakek tetap bertahan, karena dari situlah beliau berharap bisa mendapatkan uang untuk makan dan membantu kebutuhan cucu-cucunya.

“Kakek gak mau merepotkan anak. Kerjanya kurir dan penghasilannya juga gak banyak. Jadi sebagian hasil jualan Kakek kasih buat cucu, juga buat jajan sekolahnya,” tuturnya.
Perjuangannya tidak mudah. Tubuh yang semakin renta membuat Kakek sering merasa pusing dan kelelahan. Ia bahkan pernah pingsan di pinggir jalan karena belum makan seharian lantaran dagangannya belum laku. Beberapa kali Kakek juga pernah terserempet kendaraan saat berjualan di jalan raya.

Perjuangannya tidak mudah. Tubuh yang semakin renta membuat Kakek sering merasa pusing dan kelelahan. Ia bahkan pernah pingsan di pinggir jalan karena belum makan seharian lantaran dagangannya belum laku. Beberapa kali Kakek juga pernah terserempet kendaraan saat berjualan di jalan raya.
Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, Kakek biasanya hanya mendapatkan sekitar Rp20.000–Rp30.000. Saat musim hujan atau libur sekolah, dagangannya bisa semakin sepi bahkan tidak menghasilkan apa-apa.
Meski begitu, Kakek tetap memiliki hati yang begitu tulus. Jika melihat anak kecil menangis, tak jarang ia memberikan mainannya meski tidak dibayar.
Kini, Kakek memiliki harapan untuk bisa memiliki usaha kecil di rumah agar tidak perlu lagi mengayuh sepeda jauh-jauh. Ia juga ingin membantu memenuhi kebutuhan sekolah ketiga cucunya yang tinggal bersamanya serta memperbaiki tempat tinggalnya yang sudah tidak layak.
#SahabatBaik, di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, Kakek Machyuti masih berjuang demi keluarga. Mari hadirkan harapan agar Kakek bisa memiliki usaha yang lebih layak, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan menjalani hari tua dengan lebih tenang.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa