ketika sebagian besar anak masih sibuk bermain dan belajar mengeja huruf, Riswan (6 tahun) justru sudah akrab dengan panasnya aspal dan lelah berdiri berjam-jam di pinggir jalan.

Setiap pagi pukul 08.00, Riswan membantu ibunya menjajakan keripik. Tangannya yang kecil sering menggenggam plastik keripik yang hampir lebih besar dari lengannya sendiri. Hingga pukul 18.00 sore, ia tetap berdiri menemani sang ibu bukan karena ingin, tetapi karena keadaan memaksanya tumbuh terlalu cepat

Tak banyak yang tahu, Riswan sudah ikut berjualan sejak usia 2 tahun. Ayahnya meninggal dunia saat Riswan masih lima bulan dalam kandungan. Sejak saat itu, ibunya berjuang sendirian tanpa pasangan dan tanpa penghasilan tetap, hanya mengandalkan penjualan keripik di pinggir jalan untuk bertahan hidup.

Dari satu bungkus keripik yang terjual, keuntungan bersihnya hanya Rp4.000. Nominal yang mungkin terlihat kecil, namun menjadi penopang hidup mereka untuk makan hari ini, memenuhi kebutuhan harian, dan jika masih tersisa, disisihkan perlahan demi satu harapan besar agar Riswan bisa masuk sekolah tahun depan.

Ironisnya, waktu yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar justru habis di jalan. Riswan tidak pernah mengeluh, tetapi kenyataan ini membuat kita bertanya, pantaskah anak seusianya memikul beban hidup sebesar ini?
#SahabatBaik, hari ini kita bisa menjadi harapan bagi Riswan untuk memiliki masa kecil yang lebih layak. Agar sekolah bukan hanya rencana, tetapi benar-benar terwujud. Mari bersama ringankan perjuangan Riswan dan ibunya, karena kita bisa membantu mengubah masa depannya.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa