“Sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat… tapi saya tetap harus berusaha biar bisa makan,” ucap Mbah Ponijan (70) pelan.
Bersama istrinya, Mbah Riyati (67), yang juga tunanetra, mereka menjalani hari-hari dengan penuh keterbatasan. Di rumah sederhana, keduanya menghabiskan waktu membuat keset dan sapu dari serabut kelapa. Dengan tangan yang mulai gemetar, Mbah Riyati mengurai serabut, sementara Mbah Ponijan menganyam keset hanya dengan mengandalkan rabaan.

Untuk membuat satu keset, mereka membutuhkan waktu hingga satu minggu. Setelah terkumpul dua atau tiga, mereka berdua berjalan keliling kampung untuk menjualnya. Dengan langkah pelan, Mbah Riyati menggandeng tangan suaminya, saling menuntun agar tidak tersesat di jalan.
Harga jualnya pun sangat kecil, satu keset Rp10.000 dan satu sapu Rp5.000. Namun berjualan dalam kondisi tidak bisa melihat bukan hal yang mudah. Mereka sering menabrak benda di depan, bahkan terluka. Meski begitu, keduanya tetap berjalan hingga sore demi bisa mendapatkan uang untuk makan.

Di tengah kondisi sekarang, dagangan mereka semakin jarang dilirik. Banyak orang memilih barang yang lebih modern. Namun Mbah Ponijan dan Mbah Riyati tidak punya pilihan lain. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup.
Untuk makan, mereka sering hanya mengandalkan nasi putih, bahkan kadang dengan garam saja. Jika dagangan tidak laku dan beras habis, mereka harus menahan lapar. Dalam gelap, mereka hanya bisa duduk berdekatan, saling menggenggam tangan agar tetap merasa tidak sendiri.
Di usia senja, mereka tetap berjalan dalam keterbatasan demi bertahan hidup.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Ponijan dan Mbah Riyati agar bisa hidup lebih layak dan tidak lagi berjuang sendirian.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa