Di usia yang semakin senja, Mbah Darus (67 tahun) memilih untuk tidak menyusahkan anak-anaknya. Sejak kepergian sang istri beberapa tahun lalu, beliau memutuskan merantau dan hidup sendiri, menjalani hari-hari dengan penuh kesederhanaan.

Untuk bertahan hidup, Mbah Darus berjualan kacang menggunakan becak tuanya. Namun akhir-akhir ini, dagangannya semakin sulit laku. Modal habis perlahan, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Hidup Mbah Darus jauh dari kata layak. Ia tinggal di kandang bebek milik seseorang, tidur berdampingan dengan bebek-bebek yang ia jaga. Sebagai gantinya, Mbah diizinkan menumpang tinggal di sana tanpa dapur, tanpa kasur yang layak, bahkan tanpa kamar mandi yang memadai.

Biasanya Mbah mulai berjualan setelah isya. Namun karena penghasilan semakin sepi, kini ia berjualan sejak pagi hingga larut malam. Jika dagangan tak laku, Mbah memilih menahan lapar.
“Karena ndak punya dapur, mbah harus beli makanan. Kalau mepet nggak ada uang, mbah cuma makan 1–2 bungkus kacang yang dijual… ndak bisa mbah habisin, buat besok jualan lagi,” tutur Mbah lirih.

Beberapa kali Mbah Darus tertidur di atas becaknya karena kelelahan. Meski sering ditolak, beliau tetap tersenyum dan tak pernah mengeluh. Baginya, selama masih kuat mengayuh becak, ia ingin tetap berusaha sendiri.
Namun kini, tenaga Mbah semakin terbatas. Di usia yang tak lagi muda, ia hanya berharap bisa makan dengan layak dan menjalani hari-hari tanpa rasa lapar.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Darus menjalani masa tuanya dengan lebih tenang. Tak seharusnya beliau berjuang sendirian di usia senja.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa