“Saat malam tiba, rumah tetangga mulai terang. Namun rumah Mbah Marisih justru tenggelam dalam gelap, sementara beliau masih memikirkan bagaimana bisa makan esok hari.”

Di usia 83 tahun, Mbah Marisih harus menjalani masa tua seorang diri. Sejak suaminya meninggal dunia, beliau hidup sebatang kara, tanpa anak maupun keluarga yang bisa menemani dan merawatnya.

Di usianya yang sudah menginjak 83 tahun, Mbah Marisih harus menanggung beban hidup yang teramat berat sendirian. Sejak suaminya meninggal dunia, beliau hidup sebatang kara tanpa ada anak atau keluarga yang mendampingi dan merawat tubuh rentanya.
Demi menyambung hidup, Mbah Marisih memilih tidak bermangku tangan. Setiap hari, beliau berjualan tempe seharga Rp2.000 per biji. Dari setiap tempe yang berhasil terjual, Mbah hanya mengantongi keuntungan Rp200 saja.

Namun, perjuangan di jalanan tak selalu manis. Tak jarang tempenya tak laku sama sekali hingga larut malam. Jika sudah begitu, Mbah pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Untuk mengganjal perutnya yang lapar, Mbah Marisih terpaksa hanya memakan nasi putih polos tanpa lauk apa pun, atau bergantung pada belas kasih tetangga sekitar.

Mbah Marisih adalah sosok lansia produktif yang memiliki martabat tinggi. Meski fisiknya makin lemah dan penglihatannya mulai kabur, beliau tetap memilih memeras keringat sendiri daripada meminta-minta.

Namun, di usia 83 tahun, tubuh rentanya jelas memiliki batas daya tahan. Beliau tidak seharusnya lagi berjualan hingga larut malam dan tidur dalam rumah yang gelap gulita.

#SahabatBaik mari kembalikan cahaya di rumah Mbah Marisih dan ukir senyum bahagia di masa senjanya.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Tiara Rahmatika
1 minggu yang laluSehat sehat ibu
n
4 minggu yang lalusehat-sehat yaa mbah.. Bismillah mendatangkan berkah bagi hidup mbah, Aamiin.