“Setiap pagi Mbah Suratmi membawa bunga ke pasar. Namun tak setiap hari beliau bisa membawa pulang hasil penjualan.”

Di usia 75 tahun, saat tubuh mulai renta dan seharusnya bisa menikmati masa tua dengan lebih tenang, Mbah Suratmi masih harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Mbah Suratmi sudah bersiap menuju pasar untuk berjualan bunga 7 rupa. Bunga tersebut beliau jual seharga Rp5.000 per ikat.
Untuk sampai ke pasar, Mbah Suratmi harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer. Langkahnya kini sudah pelan dan tubuhnya semakin membungkuk, tetapi beliau tetap berusaha berangkat setiap pagi hingga sekitar pukul 8.
Sayangnya, tidak setiap hari dagangan Mbah Suratmi laku. Tak jarang tidak ada satu pun pembeli yang datang. Bunga-bunga yang dibawa akhirnya tersisa, sementara Mbah harus pulang tanpa membawa penghasilan.

Di rumah, Mbah Suratmi juga menjalani hidup seorang diri. Suaminya telah meninggal dunia, begitu pula anak yang sangat beliau sayangi. Kehilangan itu masih meninggalkan luka yang dalam.
Setiap kali mengingat anaknya, mata Mbah Suratmi sering berkaca-kaca. Di usia senja, beliau harus menghadapi kesepian tanpa keluarga yang bisa mendampingi.
Untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mbah Suratmi sering mengandalkan bantuan dari tetangga. Meski begitu, setiap pagi beliau tetap berusaha bangun, berjalan ke pasar, dan membawa bunga untuk dijual.
#SahabatBaik, mari kita ringankan perjuangan Mbah Suratmi.
Di balik setiap ikat bunga yang beliau bawa, ada perjuangan seorang lansia yang ingin tetap bertahan dengan kemampuannya sendiri.

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa