“Daripada mengemis, lebih baik saya berjualan. Saya punya tangan, saya punya harga diri,” ujar Pak Nurdin.

Tahun 2010 menjadi titik balik hidup Pak Nurdin. Kecelakaan tragis tertabrak kereta di Jatinegara merenggut kedua kaki dan dua jarinya. Namun kehilangan itu tak membuatnya menyerah. Pak Nurdin bangkit dan belajar membuat kaki palsu hingga akhirnya mampu membantu sesama difabel dengan keahlian yang ia miliki.

Namun keadaan kembali mengujinya. Usaha pembuatan kaki palsu yang sempat ia jalankan harus berhenti karena kehabisan modal. Kini Pak Nurdin tinggal di kamar kos sederhana bersama istrinya yang sedang hamil dengan biaya Rp600.000 per bulan.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kontrol kehamilan sang istri, Pak Nurdin setiap hari berjualan tisu di lampu merah. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, ia harus naik turun trotoar sambil menawarkan tisu kepada para pengendara.

Mirisnya, kaki palsu yang dulu ia gunakan kini rusak parah karena pernah tertabrak motor saat berjualan. Saat ini ia hanya mengandalkan sandal yang dimodifikasi seadanya untuk berjalan.

Tak jarang dagangannya ditolak atau ditawar murah. Padahal uang itu digunakan untuk makan dan biaya pemeriksaan kandungan sang istri. Meski sudah berjualan seharian di jalanan, hasil yang didapat seringkali tidak menentu.
Pak Nurdin hanya memiliki harapan sederhana: bisa kembali memiliki kaki palsu yang layak dan modal usaha agar bisa membuat kaki palsu lagi serta membuka usaha kecil untuk menghidupi keluarganya.
#SahabatBaik, mari bantu Pak Nurdin kembali bangkit dan berdaya

Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa