“Kalau Bapak tidak narik becak, Wahyu makan apa…” ucap Pak Sapawi (67) pelan dengan mata lelah.
Setiap malam, mulai pukul 20.00 hingga tengah malam, Pak Sapawi mengayuh becaknya menyusuri jalanan. Di usia yang sudah senja, saat banyak orang beristirahat, ia justru harus keluar melawan dinginnya malam demi bisa membawa pulang makanan untuk anaknya.
Sudah 29 tahun Pak Sapawi menderita asam urat kronis. Kakinya kaku, sering nyeri, dan jalannya tertatih. Bahkan ia beberapa kali terjatuh karena kelelahan. Namun semua itu ia tahan, karena yang ia pikirkan hanya satu anaknya tidak boleh kelaparan.
Sejak istri dan anak pertamanya meninggal dunia, hidup Pak Sapawi hanya untuk Mas Wahyu. Anak satu-satunya itu merupakan penyandang disabilitas yang tidak bisa berjalan sejak kecil. Ia harus bergantung sepenuhnya pada Pak Sapawi untuk makan dan menjalani hari-harinya.
Tak jarang, malam terasa sangat sepi. Tidak ada penumpang yang naik ke becaknya. Saat itu terjadi, Pak Sapawi hanya bisa duduk bersandar di becak tuanya, menunggu dengan harap-harap cemas agar ada yang membutuhkan jasanya. Karena jika tidak ada pemasukan, berarti tidak ada makanan yang bisa ia bawa pulang.
Penghasilan Pak Sapawi tidak menentu. Kadang cukup untuk makan seadanya, namun sering juga tidak mendapatkan apa-apa. Meski tubuhnya sudah lemah dan sering sakit, ia tetap memaksakan diri bekerja karena tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup bersama anaknya.
Di usia yang semakin renta, Pak Sapawi hanya berharap bisa tetap kuat agar bisa terus merawat Mas Wahyu dengan lebih layak.
#SahabatBaik, mari ringankan perjuangan Pak Sapawi agar ia bisa terus merawat anaknya dan menjalani hidup dengan lebih baik. Kebaikanmu hari ini sangat berarti bagi mereka.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Belum ada doa sahabat baik, donasi sekarang dan jadilah orang pertama yang memberikan doa