“Kalau tidak jualan, Mbah makan apa…” ucap Mbah Sido (87) lirih sambil menunduk.

Di usia yang sudah sangat renta, Mbah Sido masih bertahan hidup dengan membuat dan menjual sangkar ayam dari bambu. Setiap pagi, beliau duduk di depan rumah kecilnya, menganyam bambu satu per satu dengan tangan yang mulai gemetar dan penglihatan yang semakin rabun.

Untuk membuat satu sangkar ayam, Mbah membutuhkan waktu hingga tiga hari. Namun hasil jerih payah itu kini semakin jarang diminati orang. Di tengah zaman yang semakin modern, hampir tidak ada lagi yang melirik sangkar ayam buatannya. Meski begitu, Mbah Sido tetap bertahan dengan satu-satunya keterampilan yang ia miliki sejak muda.

Dengan langkah pelan dan tubuh yang sering kesakitan, Mbah Sido masih berjalan jauh menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Harga sangkar yang dijual hanya sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000, tetapi sering kali tidak ada yang membeli. Di tengah perjalanan, beliau kerap berhenti untuk memijat lututnya yang nyeri dan menahan napas yang mulai sesak.

Tak jarang Mbah Sido harus menahan lapar karena dagangannya tidak laku. Untuk mengganjal perut, beliau hanya minum air putih sambil berharap esok ada rezeki yang datang. Menjelang malam, Mbah kembali ke rumah kecilnya seorang diri dengan tubuh lelah dan harapan sederhana agar masih bisa bertahan hidup keesokan hari.
#SahabatBaik, mari bantu Mbah Sido agar bisa hidup lebih layak di masa tuanya. Kebaikanmu hari ini sangat berarti untuk meringankan perjuangannya.
Disclaimer : Merawat Indonesia tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi di atas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
Rivaldo Yap
4 jam yang laluSemoga kakek sehat2 selalu yaa